Selasa, 13 Oktober 2020

PUISI MATAHARI

Oh, matahari

Kau selalu menyinari bumi

Kau berguna untuk tanaman

Kau membuat bunga-bunga bermekaran

Kau selalu bersinar di pagi hari

 

Oh, matahari

Kau selalu menyinari bulan

Oh, matahari

Andai kita bisa bertemu

Di langit yang tinggi

 

Saat aku sekolah kau muncul

Aku sangat senang

Karena kau membuat pemandangan

Sangat indah


(Syahidah Asma Amanina)

 ***

Alhamdulillah...Ini puisi anak saya, Syahidah Asma Amanina, dimuat di koran Kedaulatan Rakyat Minggu, 16 November 2014. Di Rubrik Kawanku. Bagi saya surprise karena saat itu ia baru berusia 8 tahun. Kelas 2 SD. Ucapan terimakasih kepada Bu Ria S. Halimah (wali kelas 2 SD Al Islam Tambakbayan) yang sudah membimbing Syahidah sampai bisa menulis puisi ini.



UNDANGAN PILKADES

       Beberapa waktu yang lalu, Desa tempat tinggal saya mau mengadakan pemilihan kepala desa (Pilkades). Saya dan istri pun terdaftar sebagai pemilih. Beberapa hari sebelum pemilihan, panitia pemungutan suara (PPS) mengantar surat undangan untuk mencoblos. Saya tidak tahu siapa yang menerima undangan itu karena kebetulan saya tidak berada di rumah. Kata istri saya, anak-anak melihat lembar undangan itu saat diantarkan oleh panitia.

      Hari pemilihan pun tiba. Saya dan istri berangkat. Karena libur, anak-anak ingin ikut pula. Surat undangan pun saya bawa.

      “Aku juga mau bawa undangan,” kata Syafiq (4 tahun), anak saya yang kedua.
      “Nggak usah. Kamu nggak perlu bawa undangan, Nak”.
      Saya jelaskan kalau undangan itu untuk orang dewasa saja yang mau memilih. Tapi ia tetap ngeyel harus membawa undangan. Ia menghalangi saya berangkat ke TPS dan tidak mau melepaskan cengkeraman tangannya kalau tidak dibawakan kertas undangan. Saya berpikir cepat. Saya ambil surat undangan PMOG (Pertemuan Orangtua Murid dan Guru) yang sudah lewat dari PAUD tempat ia sekolah. Untungnya format undangan dari PPS dengan PAUD hampir mirip, sama-sama hanya memakai kertas A4 kuarto putih. Tadinya ia mau membawa surat undangan dari PPS tadi. 
      Sampai di TPS,surat undangan saya dan istri dibubuhi angka sesuai nomor urut dalam daftar pemilih tetap pilkades oleh panitia. Nomor 113 dan 114.

      Melihat surat undangan saya dibubuhi nomor, Syafiq pun ingin suratnya dibubuhi nomor juga. Awalnya panitia bingung. Ini surat mau ditulis apa. Salah seorang panitia spontan nyeletuk,”Sudah, tulis angka nol saja!”. Panitia dan orang-orang yang berdiri di dekat meja pendaftaran pun spontan pada tertawa melihat kejadian itu. Saya dan istri hanya tersenyum. Tapi dalam hati, saya merasa akan terjadi sesuatu.  

      Saya sudah menduga Syafiq pasti marah. Betul saja, ia lalu berteriak,”Aku nggak mau angka nol”. Ia menangis sesenggukan memeluk kaki saya. Bagi orang-orang dewasa mungkin ini kejadian lucu tapi bagi dia ini adalah pelecehan atau penghinaan. Hatinya terluka.

      Dari peristiwa kecil itu, menyadarkan saya ternyata masih banyak orang dewasa, mungkin juga kita para orangtua, yang  sering tanpa sadar telah melakukan penghinaan kepada anak-anak kecil. Bisa dalam bentuk ucapan, bahasa tubuh sampai dengan tindakan seperti mentertawakan, menghina, menyepelekan. Menganggap anak kecil tidak punya harga diri. Seolah-olah anak kecil itu tak punya hati. Padahal, tanpa sadar sesungguhnya apa yang orangtua lakukan itu telah melukai hati mereka dan membekas. Mungkin akan diingat terus sampai usia dewasa. Na’udzu billah

NIKMAT SEHAT DAN WAKTU LUANG

"Dua nikmat," kata Nabi saw, "Yang kebanyakan umat manusia merugi padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”_(HR. Bukhari)

Kita baru sadar betapa sangat mahal dan berharganya nikmat sehat itu ketika kita sedang sakit. Demikian juga dengan nikmat waktu luang. Kita bisa merasakan betapa sangat nikmatnya kenikmatan yang berupa waktu luang ketika kita disibukkan oleh banyak urusan dunia yang tiada henti yang kadang  menghalang-halangi kita mengerjakan amal perbuatan ukhrawi. 

Ya, nikmat sehat. Mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, kulit bisa merasakan, bernafas, hidung bisa mencium bebauan, tangan bisa menyentuh, meraba, berjalan, pencernaan di perut normal, aliran darah lancar, bisa buang air kecil/besar lancar dan juga 'hanya sekadar' bisa buang angin adalah kenikmatan yang tiada terkira. 

Kita juga bisa membaca, menulis, berfikir, merasakan dengan hati, mengucapkan dengan lisan apa yang terlintas di dalam hati. 

 Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh kebanyakan manusia.

Ibnul Jauzi mengatakan "Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya._

 Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat._

 Apabila terkumpul pada manusia waktu luang& nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan.

Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya)."

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya."(HR Ibnu Majah)

 "Mohonlah kepada Allah kesehatan (keselamatan). Sesungguhnya karunia yg lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamatan).

Rasulullah bersabda, "Jika salah seorang keturunan Adam hanya memiliki keislaman dan kesehatan, maka hal itu sudah cukup bagi dirinya."(HR. Ibnu Majah)_

Alangkah luar biasanya nikmat sehat itu. Ma sya'a Allah. Salah satu saja tidak berfungsi normal atau sakit, kita sudah pasti akan menderita. Hidup terasa tidak nyaman. 

Bayangkan, kalau untuk bernafas saja susah misalnya. Bisa dipastikan untuk melakukan aktivitas yang lain pun jadi susah. Itu baru satu masalah, susah bernafas. Bagaimana kalau yang terjadi adalah komplikasi? Hidup kita semakin menderita, semakin tidak nyaman. Kita hanya bisa tergeletak lemah di atas tempat tidur. Kita menjadi beban untuk orang lain karena semua kebutuhan/keperluan hidup kita dilayani oleh orang lain. 


Sabtu, 14 Januari 2017

@ Ruang Merak no. 315 RSPAU Dr. Hardjolukito Yogyakarta

Sabtu, 10 Oktober 2020

T E L I T I


Sebuah penelitian tentang peribahasa Jepang (kotowaza) menjelaskan karakter orang Jepang yang tercermin dari makna-makna yang terkandung di dalam peribahasa tersebut. Setidaknya ada 6 karakter orang Jepang yang tercermin dalam peribahasa mereka. Salah satu karakter itu adalah teliti dan hati-hati. Kalau kita buka kamus, teliti itu berarti awas, jeli, akurat, cermat, saksama, tepat, hati-hati, waspada. Lawan katanya adalah  ceroboh atau kata orang Jawa, grusa-grusu

Eh, mengapa tiba-tiba ngomong soal karakter teliti dan hati-hati?

Soalnya ini berkaitan dengan pengalaman masa lalu saat jadi sangga kerja/panitia perkemahan saat aku di MAN satu. Aku telah berbuat ceroboh. Tidak teliti. Karena kecerobohanku ini telah mengecewakan dan merugikan banyak orang. Menjadi kenangan sedih yang tak terlupakan. Sungguh, aku sangat menyesal, kawan. Tapi dari peristiwa itu aku belajar untuk lebih teliti dan hati-hati saat bekerja.

Ceritanya, saat  itu (tahun 1990) aku ditunjuk jadi seksi pubdekdok (publikasi, dekorasi dan dokumentasi) pada Kemah Bakti Ambalan di Randugunting, Prambanan. Namanya keren tapi sebenarnya yang dominan ya bagian dokumentasi saja. Gampangnya, jadi tukang fotolah. Pemahaman saat itu, namanya dokumentasi ya hanya foto. Dokumentasi berupa tulisan (berita) belum terpikirkan. Apalagi dokumentasi video. Tidak ada anggaran. Dokumentasi video mahal biayanya.  

Saat itu, kamera foto masih pakai roll film negative yang isi satu roll ‘hanya’ bisa untuk 24 kali jepretan, ada yang 36 kali jepretan. Jadi, hanya kejadian yang betul-betul penting yang akan dipotret.  Bukan kamera digital seperti saat ini yang bisa suka-suka jepret sana, jepret sini.

Hari H perkemahan pun tiba. Sesuai tugasku, selama tiga hari itu beberapa acara penting aku ambil gambarnya. Sebelumnya, aku harus bisa memperkirakan acara penting mana saja yang akan aku potret nanti. Dari acara seremonial seperti upacara pembukaan dan penutupan sampai acara inti yang penuh kehebohan seperti lomba antar regu (sangga ya?), acara api unggun, susur jalan dan lain-lain. Tak ketinggalan foto bareng-bareng di hari terakhir sebelum balik pulang ke pangkalan.

 

Acara kemah selesai. 38 kali jepretan sudah aku pencet. Tombol untuk menggulung film pun aku tekan. Pulang. Besok hari akan aku bawa ke studio foto untuk dicetak. Ukuran 3 R dan berwarna.

 

Aku masuk ke studio dan roll film aku serahkan ke karyawan studio untuk ‘dicuci’ dan dicetak. Tarif biasa saja, bukan kilat. Artinya 3 hari baru selesai dicetak. Yah, maklum anggarannya memang hanya segitu.

 

Tiga hari berikutnya aku pergi ke studio lagi untuk mengambil hasil cetak foto itu. Sejak dari asrama MAPK, aku sudah membayangkan ekspresi teman-teman sesama sangga kerja dan peserta kemah bakti yang sudah aku abadikan dalam lembaran foto-foto itu. Wah, pasti seru…

Tapi…

Karyawan hanya menyerahkan film negatifnya (klise) saja yang berwarna coklat itu tanpa satu lembarpun foto yang dicetak. Aku sangat terkejut.

“Kok hanya klise saja, Mbak? Foto-fotonya mana?” tanyaku heran.

“Ini klisenya kosong, Mas. Nggak ada foto di dalamnya,“

“Astaghfirullahal ‘adhiim..La haula wa la quwwata illa billah,” Lirih aku berucap.

“Kok bisa begitu, Mbak?” Aku masih tak habis pikir. Bagaimana aku harus menjelaskan hal ini pada teman-teman sangga kerja.

Aku terawang roll film negatif itu di bawah lampu studio memang kosong, tidak ada foto orang-orang yang kemarin sudah aku potret.

Ya Allah…

Ternyata roll film negatif itu tidak nyangkut di pengait yang berfungsi untuk menarik keluar dari wadah roll film itu sehingga ia tidak ikut berputar saat tombol putar digeser-geser ke kanan. Berarti roll film yang aku serahkan ke studio itu untuk ‘dicuci’ dan dicetak itu sama saja belum dipakai untuk memotret. Itu terlihat dari hasil ‘cuci’ film yang berwarna coklat itu. Bukan hitam. Makanya fotonya kosong. Jadi, tidak ada dokumentasi foto yang dari sangga kerja. Aku tidak tahu, apakah seksi lain atau dari peserta ada yang membawa kamera sendiri atau tidak.

 

Semua sudah terjadi. Hanya yang sangat aku sesali adalah kenapa saat memasang roll film di kamera itu tidak teliti. Semestinya dicek lagi, sudah nyangkut di pengait atau belum. Lebih baik mengorbankan satu atau dua jepretan (foto jadi hangus) dengan cara membuka penutup kamera dan memastikan film negative itu terpasang dengan benar daripada mengalami kejadian seperti ini. Sebenarnya seingatku, saat itu bukan aku sendiri yang memasang roll film itu di kamera. Aku meminta tolong salah seorang kakak untuk memasangkannya. Tapi, bagaimanapun aku yang harus bertanggungjawab karena aku seksi dokumentasinya.

 

Sedih sekali rasanya. Kenangan ini tak pernah terlupakan hingga kini. Aku hanya bisa meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada teman-teman semuanya. 

Senin, 29 Juni 2020

CERITA LUCU (Bagian 3)


 

KUNCI

 

Tiga orang karyawan kantoran yang lokasi kantornya di tingkat 30, siang itu, ketiganya turun untuk makan siang.

 

Saat mereka kembali ke kantor seluruh listrik mati,, otomatis lift gedung tersebut tidak berfungsi.. Bagaimana ketiganya bisa naik ke lantai 30 sedangkan hari itu ada pekerjaan yang urgen dan harus diselesaikan.

 

Ketiganya memutuskan naik lewat tangga manual. Caranya sambil naik tangga sambil cerita, supaya  nggak terasa capek..

 

Yang pertama sebut saja si Jefry, bertugas cerita dari tangga 1 sampai ditangga tingkat 10 dengan cerita yang lucu-lucu.

 

Yang kedua si Junay kebagian cerita dari tingkat 11 sampai tingkat 20 dengan cerita yang serem-serem.

 

Keduanya melaksanakan tugas dengan baik dan tak terasa karena lucu ceritanya si Jefry, mereka sudah dilantai 10.

 

Begitu juga! saking seremnya cerita si Junay langkah mereka semakin cepat dan tak terasa mereka bertiga sudah di lantai 20..

 

Sekarang giliran si Jajat bercerita dari tingkat 21 sampai tingkat 30 dengan cerita yang sedih-sedih.

 

Si Jajat pun mulai bercerita kisah yang sedih-sedih dan tanpa di sadari mereka naik sambil menangis..karena sedihnya cerita si Jajat, mereka sudah berada dilantai 29.

 

Tinggal 1 lantai lagi mereka sudah mau masuk ruangan kantor mereka..

dan si Jajat bilang masih ada 1 cerita lagi yang sedih dan paling sedih dari semua cerita saya kata si Jajat.

 

Kedua temannya tidak mau mendengar lagi ceritanya karena sudah tak sanggup menangis..

Tapi si Jajat memaksa untuk bercerita satu cerita lagi..dan inilah cerita yang paling sedih itu…

 

Akhirnya sebelum sampai dilantai 30 kedua temannya mengijinkan. “Yah sudahlah cerita saja,, sebelum kita masuk.”

 

Ternyata cerita yang terakhir itu memang betul-betul sangat menyedihkan.

Judulnya : KUNCI KANTORNYA KETINGGALAN DI RUANG SECURITY DI LANTAI 1.

 

 

ADZAN

 

Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena persis jam 22.00 terdengar adzan berkumandang dari sebuah mushalla setempat lewat pengeras suara yang memecah keheningan malam. Suara pengumandang adzan yang tak kalah gontai membuat warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya; Mbah Sadi yang umurnya sudah menembus kepala tujuh. Yang membuat kepala warga dipenuhi pertanyaan, mengapa Mbah Sadi adzan pada jam sepuluh malam? Ketika warga sampai di pintu mushalla, Mbah Sadi baru selesai adzan dan mematikan sound system.

 

“Mbah tahu gak, jam berapa sekarang?” cecar Pak RT sambil menunjuk jam dinding mushalla.

 

“Adzan apa jam segini, Mbah?”

 

“Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat,” sambar Yoso dengan nada prihatin.

 

“Sekarang banyak banget aliran macem-macem. Bahaya kalau kampung kita sudah kena.” lanjutnya.

 

“Ah, dasar Mbah Sadi sudah gila,” sahut Joni, mantan preman yang sudah mulai insaf dan berusaha menghilangkan tato di pangkal lengannya dengan setrika panas.

 

“Kalau nggak gila, mana mungkin adzan jam segini?” sambungnya sambil menyilangkan jari telunjuk di keningnya ke arah warga yang riuh berkomentar macam-macam mengomentari laku aneh Mbah Sadi.

 

“Kalian ini ......,” jawab Mbah Sadi tenang. “Tadi, waktu saya adzan Isya, nggak satu pun yang datang kemari. Sekarang saya adzan jam 10 malam, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi Kalo gitu... SIAPA YANG GILA.... coba?”

 

Warga pun ngeloyor pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang melipir menjauh, perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Mbah Sadi.


 


KENALAN PESBUK

 

Sore iku, Topan lagi numpak montor nggoleki omahe Juminten, kenalan anyar oleh teko Pesbuk. Rumongso kesasar, Topan langsung mbukak Pesbuk...terus inbox-an neng akune FB Juminten.

 

Topan : Halo ayang , Jum. Aku wes tekan daerahmu ki.  Terus mlebu gang sing endi ?

Juminten : Sing ono gapurone terus sampeyan lurus kiro-kiro 25 meter ono omah gedong tingkat apik , warnane biru, mobile akeh.

Topan : Siap ....Aku wes tekan kono ki... Omahmu iki po, jum?

Juminten :Udhuk mas...sampeyan menggok nengen kiro-kiro 10 meter ono lapangan badminton...lah sebelahe lapangan kuwi.

Topan : Omahmu Jum?

Juminten : Kuwi omahe tukang jahit mas...( xixixi )...... Lurus wae mengko bar jembatan ketemu omah Ono tulisane ISI ULANG PULSA lha kuwi..

Topan : Siiiippp ... Kuwi omahmu tho ?

Juminten : Kuwi jenenge konter mas..(xixixi) Sampeyan menggok nengen wae terus ketemu Kuburan.... Lha ngarepe kuburan kuwi.

Topan ( mulai nesu ): Omahmu Jum?

Juminten : Kuwi gerbang kuburan mas .... Sampeyan ojo mlebu..... Sampeyan menggok kiwo wae mengko ono peternakan pitik gedhe kuwi....

Topan ( nesu tenan ): Aaaargh,! Opo kuwi omahmu?

Juminten: Aku udhuk pitik mas.... Kuwi isih lurus terus.... Mengko ketemu ALAS... Kuwi...

Topan (muntap) :" KUWI OMAHMU JUUUM...?

Juminten : Aku udhuk munyuk mas! Sampeyan lewat alas lurus terus mengko ketemu masjid.... Lha jejere masjid kuwi..

Topan ( emosi pol ): NEK PISAN IKI NGOMONG UDUK OMAHMU TAK SANTET TENAN KOWE JUM!!!

Juminten : Xixixi ... Dadi wong kok nesuan... Iyo kuwi omahku.... Wes ketemu rung mas ?

Topan (Lego): Iyo... Aku wes nang ngarep omahmu ki...Asem yo ayang Jum... Nggawe kesel awakku... Awas bar iki tak jiwiti kowe ....hehehe

Juminten : Yo wes mlebu wae ... Ono simbok kok.."

Topan : Lho kok malah simbokmu sing kon nemoni ? Lha kowe nangdi, Jum?

Juminten : Laahh aku kan..... Wes suwe neng Hongkong dadi TKW mas.... Xixixi....

 

Topan terus ndelosor eker eker suket.

 


Sabtu, 30 Mei 2020

MUDIK LEBARAN

Alhamdulillah, mudik pada hari kelima kali ini lancar bisa ditempuh dalam waktu 1 jam dengan si krem Honda Mobilio via jalan biasa. Bukan jalan tol karena tol-nya belum dibangun. Itu mobil pinjam punya ponakan. Tidak perlu ngebut karena sambil menikmati pemandangan kanan kiri. Tidak mampir-mampir karena meski beda propinsi tapi jaraknya dekat, hanya sekitar 30 km-an. Sekali berhenti di SPBU Salam untuk isi bahan bakar dan beli oleh-oleh untuk saudara dan ponakan di kampung. Mobil jalan lagi.

Lihat sepintas di kanan kiri jalan masih banyak toko yang tutup.

Dan tak lama kemudian...

Sampailah di kampung halaman, di bawah kaki gunung Merapi. Dusun Brajan, Banyubiru, Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Sepanjang jalan kampung, berserakan serpihan-serpihan kertas.

Pertama masuk rumah salam-salaman tapi gak bersentuhan dan tetap paké masker. Ngobrol ngalor ngidul. Tentang suasana Ramadhan kemarin, corona, kabar sekolah anak-anak. Sesekali terdengar suara mercon di ujung kampung. Keras. Meski kita sudah bisa menduga dari melihat banyaknya serpihan kertas pada saat masuk kampung tadi tapi kaget juga akhirnya.

 

Hidangan kue khas lebaran di kampung sudah menunggu untuk di santap. Teh manis juga dah siap di teko. Tinggal tuang.

Menu makan siang, ayam opor.

 

Sorenya, mie ayam spesial.

 

Pagi hari berikutnya, keliling ke rumah saudara dari ayah dan ibu di kampung sebelah. Sekitar 3 km-an dari rumah Brajan. Saudara di sini menyajikan menu makan ikan nila bakar atau pecel lele.

 

Dua atau tiga hari berturut-turut, agenda kita adalah silaturrahim berkeliling dari satu rumah saudara ke rumah saudara yang lain. Sebenarnya rumah yang harus dimasuki buanyak. Tapi mengingat waktu, kita pilih beberapa saja yang kita anggap sudah mewakili saudara yang lain.

 

Tradisi di sini, setiap masuk rumah pasti disuruh makan. Tidak boleh pamit pulang  kalau belum makan. Bayangkan kalau masuk 10 rumah saja, dah makan 10 piring. Kekenyangan, pasti.

 

***

 

Itulah rencana kami pada Lebaran kali ini yang tidak bisa kami realisasikan. Mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal 'di rumah saja', demi kebaikan bersama dan wujud cinta kami pada keluarga dan handai taulan. Tidak tertular atau menularkan virus corona (Covid 19).

So, akhirnya silaturrahimnya secara virtual saja. Lewat Google Meet. Pagi ini.

Minggu, 17 September 2017

BANDENG



Lama saya tidak naik bis kelas ekonomi. Angkutan umum, antar kota antar propinsi. 

Akhir pekan kemarin, saya putuskan naik bus menengok saudara di kampung halaman. Saya perkirakan di tengah jalan nanti hujan deras. Motor saya titipkan di terminal. 

Bertiga dengan 2 anak saya,kami masuk ke satu bus yang sudah penuh sesak dengan penumpang. Semua kursi telah terisi. Plus dari depan sampai belakang, penumpang pada berdiri berdesak-desakan. 

Mesin bus menyala, tapi belum ada tanda-tanda bus mau berangkat. Para penumpang sudah pada mengeluh. Kernetnya masih juga mau memasukkan penumpang lagi.Haduh...

"Mas ,maju lagi mas!" teriak Pak kernet. 

"Miring mas.Berdirinya miring mas..." lanjutnya. 

Para penumpang hanya bisa menggerutu. Saya jadi ingat waktu sekolah dulu. Kalau pulang kampung di akhir pekan ya seperti ini keadaannya. Sesak. Berdesak-desakan.

Ada satu penumpang yang tiba-tiba nyeletuk,"Emangnya ikan bandeng, suruh miring-miring". 

Penumpang yang lain sepertinya mengiyakan.Tapi tidak berani protes. 

Dalam hati saya tertawa membayangkan para penumpang ini berdiri berjejer miring persis seperti ikan bandeng ditata rapi miring biar muat banyak.

Hemmm....kerasnya kehidupan. Atau lucunya kehidupan?

Jumat, 16 Desember 2016

ANDAI RASULULLAH SHOLLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DATANG MENGETUK PINTU RUMAHKU

Repost


Terbayang olehku sorot mata yang tajam dan teduh bisa meluluhkan hati yang keras dapat menenangkan hati yang gusar. Ingin kusentuh dan kucium tangannya yang lembut bagaikan sutra. Dapat kucium harum tubuhnya yang lekat. Dapat kulihat tubuh tegap dan gagah yang Allah ciptakan dengan rupa terbaik.


Ingin aku berkata apa adanya :


“Ya Rasulullah do’akan aku agar dapat terangkat segala kesulitan hidupku, semoga Allah melapangkan rizkiku, do’akan aku ya Rasulullah agar baik urusanku di dunia dan akhirat dan jadikan aku kelak mendampingimu di syurga, hidup abadi bersamamu.”


Namun….


Belum sempat aku membuka pintu rumahku, tiba-tiba aku teringat di ruang tamuku ada televisi lengkap dengan DVD playernya, sebuah benda yang mungkin akan menjadi pertanyaan nabiku terkasih, “Benda apa ini? Apa yang engkau saksikan di dalamnya?”
Oh…aku pasti malu, karena aku dan keluargaku sering menghabiskan waktu di depan televisi hingga lalai shalatku.


Aku mulai melihat sekelilingku, ternyata buku-buku bacaanku lebih banyak berisi buku-buku umum yang kumiliki. Bahkan Al-Qur’an yang ada nyaris hanya sebagai pajangan belaka karena covernya pun masih bagus dan halamannya masih rapih meski  telah bertahun-tahun menghiasi ruang bacaku. Pasti Rasulullah akan bertanya padaku,
“Berapa banyak Al-Qur’an yang engkau baca setiap hari?Apakah ada buku-buku yang menceritakan tentang diriku?” Ah..aku pasti akan terbata-bata menjawabnya, karena jarang sekali aku membukanya karena memang aku tidak tahu cara membacanya.


Aku mulai berjalan ke kamar tidurku kalau-kalau Rasulullah ingin bermalam di rumahku… Ternyata di kamarku hanya ada sedikit ruang untuk shalat sekedar untuk badanku saja. Aduh alangkah repotnya kalau Rasulullah mengajak kami untuk shalat berjamaah, karena di rumahku tak ada mushola keluarga.


Aku melihat foto keluargaku terpampang di kamarku, ada wajah anak-anakku yang ekspresinya lucu. Kalau Rasulullah melihat pasti akan kuceritakan keceriaan mereka yang menggemaskan. Tapi….. aku agak khawatir kalau-kalau Rasulullah bertanya, “Apakah mereka mengenal nabinya dengan baik sebagaimana generasi masaku?”
Karena memang aku tidak pernah mengenalkan sosok tentang Rasulullah kepada mereka kecuali sedikit saja. Tentang kelahirannya di tahun gajah….cuman itu yang aku ketahui tentang nabiku.


Oh, hatiku mulai teriris-iris oleh perasaan malu, khawatir dan cemas. Harapanku untuk berakrab-akrab dengan Rasul tercinta mulai pupus…Maafkan aku ya Rasulullah aku belum bisa membuka pintu rumahku untukmu, karena masih banyak pertanyaan yang akan keluar dari lisanmu yang lembut sementara aku belum bisa menjawabnya. Mungkin engkau akan menyaksikan wajahku dengan sebuah senyuman saja…ya sebuah senyuman.

_______________

Catatan : Saya tidak tahu persis ini tulisan Bunda Kurnia Widhiatuti atau transkrip dari ceramah motivasi dari beliau. Bunda Kurnia Widhiatuti adalah seorang trainer parenting, praktisi dan pemerhati pendidikan anak, yang mengingatkan kita semua untuk terus berusaha mengenal lebih jauh sosok Nabi dan Rasul terkasih, mengenalkannya pada semua putra-putri kita dan menghadirkannya selalu di setiap saat sebagai rujukan hidup, insya'a Allah.

Rabu, 15 Oktober 2014

CERITA LUCU 2



1. Canda Pasca Qurban

Benarkah kebanyakan makan daging kambing membuat tensi naik? 

Mari kita lihat hasil uji coba berikut. Uji coba telah dilakukan di sebuah penjara paling ketat di Indonesia, dengan kelinci percobaan adalah dua napi dengan posisi sel berhadapan. 

Pada hari pertama, napi A dikasih menu gulai kambing dan napi B  dikasih menu tempe bacem. 

Pada hari kedua, napi A dikasih menu kambing guling dan napi B dikasih tempe bacem lagi. Terlihat mulai ada reaksi, yaitu napi B merasa kok gak sama...ya..? 

Pada hari ketiga, napi A dikasih menu sate kambing 50 tusuk dan napi B dikasih tempe goreng 2 biji.... Braaak!!! Krompyang!!! Napi B membanting piring nasinya hingga pecah sambil marah-marah. 

Akhirnya, kepala penjara mengambil kesimpulan : ternyata tempe lebih cepat memicu tekanan darah dan penyebab tensi naik. Bukan daging kambing...

2. Hamil vs PLN

Inem : Akang, Inem sudah telat sebulan, kita bakal punya bayi.
Kabayan : Tapi jangan bilang-bilang ke orang lain dulu yaa... takut tidak jadi ... nanti malu-maluin.

Besoknya tukang tagih dari PLN ketuk pintu, begitu dibuka, tukang tagih ngomong,

Petugas PLN : Bu, ibu telat sebulan.
Inem : Dari mana Bapak tahu ?
Petugas PLN : Khan ini ada catatannya di PLN.
Inem : Haaah..., masa sampe dicatat di PLN ???!!!

Besoknya Si_Kabayan pergi ke kantor PLN sambil marah-marah.

Kabayan : Bagaimana mungkin PLN sampe bisa tahu kalau istri saya telat sebulan ?"

Petugas PLN : Sabar Pak, Kalau Bapak mau catatannya dihapus, Bapak tinggal bayar kepada kami.
Kabayan : Kalau saya tidak mau bayar ?".
Petugas PLN : Punya Bapak, akan kami putusin.
Kabayan : Giiillaa...., punya saya mau diputusin?? Kalo istri saya di rumah lagi pengen, terus pake apa ???.
Petugas PLN : Yaa, terpaksa pake lilin ......!!!???
Kabayan : Dasar PLN giillaaa...!!!


3. Masker.

Nang klinik posko tanggap darurat abu Kelud, simbahe melu antre prikso...

"Menika Bu dokter, napas kula sesek. Ngge ambegan angel." sambate simbah karo nyermimih.

"Oo.. " Bu dokter kalem mangsuli.

"Kadose kula kenging inpeksi saluran pernapasan akut.."

"Ooo... "

"Kagem bernapas angilll sanget.. Rasane dadi kesel ambegan.. "
Doktere nyedaki simbah.

"Cobi, sakniki tutupe rai niki dibukak.. !"

Simbah gage gage nyopot tutup raine..

"Wehh.. Kok dadi lancar nggo ambegan...?! Genea gampang tambane nggih, Bu..!" seru simbah bungah.

Bu dokter ora mangsuli, ning mbacutke le takon...

"Nyuwun sewu, tutupe rai niku wau angsal seking pundi?"

"Seking posko! Lha nunggu antrean suwi, kula njur mbrobos tenda njupuk dewe, angsal kongoten niku sakplastik."

"Oo... Sanes wekdal tutup raine ngangge niki nggih Mbah " ujar doktere karo menehi masker...,
"Nah sing simbah agem niku wau jenenge pampers...!"



Selasa, 14 Oktober 2014

CERITA LUCU



Entah siapa yang mengarang pertama kali dan menyebarkan cerita lucu-lucu ini. Saya mendapatkannya dari berbagai media : sms, grup fb, whatsapp, bbm. Biasanya saya dapat kiriman ketika siang atau sore hari saat istirahat sejenak dari kesibukan kerja. Ya, lumayan untuk hiburan. Berikut ini sebagian cerita lucu itu.

1. Suami belajar memasak.


Seorang suami belajar memasak pada istrinya. 

Istri      : Pak tolong taruh wajan di atas kompor.
Suami  : Baik Bu. terus apa lagi?
Istri      : Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan, tumis sampai harum.
Suami  : Sudah Bu...terus apa lagi?
Istri      : Tuangkan santan tunggu sampai mendidih...
Suami  : Bu santannya sudah mendiidh terus bagaimana ?
Istri      : Kalau sudah mendidih kasih salam...
Suami  : (sambil mendekatkan wajahnya ke wajan) : Assalamu 'alaikum...

2. Mabok berat


Ada 3 orang preman yang sedang mabok berat. Lalu mereka menyetop taksi hendak pulang. Karena si sopir taksi tahu kalau mereka mabok berat jadi sopir membohongi mereka. Dia hanya menyalakan mesin saja terus mematikannya lagi dan bilang, "Sudah sampai Bang !!". 
Kemudian preman pertama membayar taksi dan diikuti preman kedua sambil bilang,"Terima kasih Pak". 

Nah giliran preman ketiga nih begitu turun ia langsung menggampar wajah itu sopir. Plaaak !!!. 

Si sopir langsung gemeter sangat ketakutan. Mungkin merasa sudah menipu para preman itu. Dengan gemeter si sopir itupun bertanya,"Kenapa saya digampar,Bang?"

Preman ketiga menjawab dengan nada mabok,"Gila lo! Cepet banget nyupirnya. Hampir mati gua tadi. Laen kali pelan-pelan lo!!"


3. Obat nomer 7

Nang daerah Kenjeran ono klinik jenenge klinik TONGPES. Nang kono ditulisi, sopo ae sing berobat gak waras, duwite dibalekno sampek 5 kali lipat. Saben dino klinik iku rame terus gara-gara slogane menjanjikan.Tapi yo ngono, saben berobat nang kono, pasienne mesti waras. durung tau ono pasien sing komplain gara-gara gak waras.

Weruh ngono Agos iseng-iseng pingin berobat mrono, ben klinike ora iso nangani, duwite iso mbalik 5 kali lipat.Deweke ngarang penyakit sing kiro-kiro aneh, sing wong durung tau krungu.

Agos   : Bib, aku iki kok duwe penyakit aneh yo?
Tabib  : Penyakit opo cak?
Agos   : Iki loh Bib. Aku ben mangan cangkemku kok gak kroso opo-opo. Pedes, asin legi, gak kroso blas.
Tabib  : Owalah, iki ngono penyakit gampang di warasno. Mei Lin, tulung jupukno obat no 7.
Iki cak, obate sampeyan ombe saiki. Ono perubahan opo gak?
Agos : (Aku etok-etok gak kroso opo-opo ah ben duwite iso mbalik).Bareng diombe Agos keceplosan," Jxxxxk, iki ngono duduk obat Bib, tapi telek pitik.
Tabib  : Wah berartikon wis waras. Cangkemmu wis iso ngrasakno telek pitik barang.
Akhire Agos mulih karo nggremeng gak mari-mari.

Minggu ngarepe, Agos iseng-iseng meneh pingin berobat nang klinik TONGPES.

Agos  : Bib aku duwe penyakit aneh
Tabib  : Opo iku?
Agos  : Ngene Bib. Aku akhir-akhir iki kok gampang lalian. Jek tas 5 menit ngomong wis lali sing diomongno.
Tabib  : Walah... gampang iku.
Agos mrinding gak karuan.
Tabib  : Mei Lin, tulung jupukno obat nomer 7
Agos   : Bib ojok guyon, Aku emoh nek obat nomer 7
Tabib  : Loh opo'o?
Agos  (spontan) : Iku duduk obat tapi telek pitik
Tabib  : Lah iku koen eling. Berarti penyakitmu wis waras !!
Agos  : Wes Bib, gak sudi aku gak katene berobat meneh. Mosok saben nang kene disuguhi telek pitik.

Selasa, 17 September 2013

M A M P I R

 PERJALANAN :

1. Kali Gendol, Cangkringan
 2. GunungGambar,Patuk Gunungkidul
 
3. Monumen Bambu Runcing, Muntilan Magelang
 4. Ketep Pass, Sawangan Magelang
 5. Fun Rafting sungai Elo, Magelang
 6. Stasiun kereta api Solo Balapan

7. Pelabuhan Bakaheuni Lampung












                                                                                                                                                                                                                                                  
 8. Pantai Losari Makassar

Langit Terbuka Menuju Tanah Suci

Pagi buta di bandara, dingin menusuk kulit dan cahaya neon mengiringi langkahku menuju konter maskapai Saudi Arabia Airlines. Ini perjalanan...