Kamis, 08 September 2022
SYAFIQ MUHAMMAD FAKHRI
Senin, 21 Desember 2020
PUISI IBU
Oleh Syahidah Asma Amanina
Oh Ibu aku sayang padamu
Engkau telah merawatku dari kecil hingga besar
Betapa senangnya aku sekarang denganmu
Oh Ibu jasamu sangat besar untukku
Aku tidak akan melupakanmu hingga akhir hayat
Jasamu besar untukku
Lain kali saat kau tua aku ganti yang merawatmu ibu
Catatan :
Memperingati hari Ibu, saya posting puisi karya anak saya tentang ibunya. Sebenarnya puisi ini ditulis anak saya 5 tahun yang lalu (2015), saat ia berumur 9 tahun. Baru kelas 3 SD di SD Al Islam Tambakbayan, Yogyakarta. Ibu guru di sekolahnya meminta murid-murid menulis apa saja yang mereka sukai. Anak saya menulis puisi Ibu.
Selasa, 13 Oktober 2020
KOMUNIKASI
Sebuah WA grup sesungguhnya juga bisa sebagai sarana POMG. POMG online (dunia maya). Seperti kata salah satu wali murid, Bu Nur Wijayanti, lewat grup ini bisa untuk mengkomunikasikan keadaan anak, terutama ketika anak ada masalah.
Sarana untuk mengingatkan ketika ada
tugas atau ulangan.
Yang penting memang sesungguhnya
adalah adanya komunikasi yang intens antara wali murid dan wali kelas.
Meminjam kata Bu Rusi, anak-anak bisa
berkembang jika terjadi keselarasan dan keharmonisan antara sekolah (terutama
wali kelas) dan wali murid.
Jadi, saling membantu, saling
mendukung dan saling mengingatkan.
Soal karakter dan sifat guru, di mana
pun in sya'a Allah akan terasa lengkap manakala ada yang lembut, ada yang
tegas, ada yang halus ada yang keras. Ada yang pelan, ada yang cepat.
Sesungguhnya, kalau kita sikapi
dengan positive thinking semua terasa enak. Nikmat.
Menemani anak-anak kita belajar
misalnya, mungkin menyita waktu kerja atau istirahat kita dan rasanya kadang
capek. "Bikes", kata anak-anak. Bikin kesel. Tetapi dibalik
itu, sesungguhnya itulah waktu yang tepat untuk menjalin kedekatan hubungan
kita dengan anak-anak. Kita bisa berbicara dengan bebas dari hati ke hati.
Kita akan mendengar cerita-cerita
lucu atau pengalaman yang menegangkan yang dialami anak saat mereka belajar di
sekolah.
Mau tidak mau kita sebagai orang tua
kadang-kadang dipaksa untuk belajar lagi, mengingat-ingat pelajaran yang pernah
kita dapatkan dulu. Kalau kita niatkan dengan benar in sya'a Allah apa yang
kita lakukan itu berpahala karena bernilai ibadah.
Hemm...ma sya'a Allah. Kita bisa
menanamkan nilai-nilai yang baik dan benar kepada anak-anak kita. Komunikasi
yang efektif dengan anak-anak. Itu adalah anugerah yang Allah berikan kepada
kita yang mungkin tidak diberikan kepada pasangan yang belum diberi keturunan.
Capek sekali, mungkin. Tapi itulah saatnya kita memperoleh pahala besar dari
Allah SWT.
Saya sendiri sering mengalami hal
ini. Ada cerita lucu yang saya dapatkan dari anak-anak.
Saat saya menemani anak saya, Syahidah (11 tahun) mengerjakan PR, ia mengatakan kalau Bu Rusi dan Bu Yuli itu hanya mengejar
materi (pelajaran) cepat selesai.
"Bu Rusi itu kalau menjelaskan
pelajaran sering cepat banget. Teman-teman jadi sering mlongo.
Menggeleng-gelengkan kepala, terus bola mata mengikuti gerak tangan Bu
Rusi."
"Misalnya, gimana?" Saya
bertanya penasaran.
"Misalnya soal perkalian pas
pelajaran matematika. 180 x 12. Dia menjelaskannya seperti ini. 0 kali 2
sekian, 8 kali 2 sekian, ini kali ini sekian, ini sekian...nah ketemu 180 x 12
= sekian. Begitu ya. Hah, cepet banget. Nggak paham, Bu. Masak kayak gitu saja
nggak paham, kata Bu Rusi. Lha, Bu Rusi menjelaskannya terlalu cepat."
Eh..kok malah jadi ngrasani Bu Rusi. He.. he..he maaf.
Saat bersamaan, adiknya (Syafiq,
kelas 2) juga sedang mengerjakan PR soal pelajaran PKn. 'Orang tuamu
sibuk membersihkan rumah, tindakanmu seharusnya...'
a. pergi bermain dengan teman
b. belajar di rumah teman
c. ikut membantu tanpa disuruh.
Ia memilih jawaban C. Tapi sambil
menyilang huruf C, ia bilang, "Nek aku ta' biarkan".
"Kok gitu. Itu namanya nggak
sesuai dengan apa yang kamu tuliskan no?"
"Soalnya kalau aku jawab ta
biarkan, nanti disalahkan sama Bu Ayu."
He..he..he.. Ini anak perlu
diusap-usap kepalanya biar hatinya jadi lembut.
Cerita atau pengalaman lain, saya yakin
Ibu-ibu dan Bapak-bapak juga merasakan hal yang sama.
Mudah-mudahan hari-hari yang akan
datang lebih baik lagi. Anak-anak tumbuh dan berkembang maksimal. Bersaing
secara sehat, tidak hanya dengan sesama teman sekelas tapi bahkan bersaing
dengan murid SD lain.
Selamat tahun baru 1439 Hijriyah
(27 Sep 2017)
R A S A
Aku ingat saat kelas satu, sekian tahun yang lalu
Di acara jurit malam waktu itu.
Kakak-kakak
membentakku dan teman-temanku.
Aku mengira mereka marah dan membenciku.
Ketakutan menghantuiku
Merinding bulu kudukku.
Gemetar badanku.
Aku bayangkan hukuman yang akan ditimpakan padaku.
Aku mau berteriak sekeras-kerasnya, apa salahku?
Tapi malam menutup merah padam mukaku.
Semua terekam jelas.
Membuat dendam di hati
Suatu saat akan kubalas
Rasakan saja nanti
Niat baik mereka agar kami bermental baja.
Tapi hati ini seperti tak terima.
Sebenarnya mau marah.
Meski akhirnya juga pasrah.
Kelak saat di kelas dua.
Saat aku jadi panitia.
Aku lampiaskan dendam ini pada adik kelasku.
Ku suruh mereka ini dan itu.
Ku bentak-bentak sesukaku.
Seperti kata peribahasa.
Anak-anak itu bak kerbau dicocok hidungnya.
Pasrah, takut dan tak berani berkata.
Perasaan yang sama dengan yang dulu aku rasa.
Rasa itu terus saja mengikuti
Ada rasa marah menyelimuti.
Pada Kakak-kakak yang kutahu sesungguhnya baik hati.
Juga rasa bersalah pada adik-adik kelasku ini
Aku ingin melupakan semuanya.
Karena sebenarnya niat mereka mulia.
Atau seperti yang aku rasa,
Mereka begitu karena dulu mengalami hal yang serupa
Moga adik-adik kelasku pun begitu pula.
Memaafkanku atas perlakuan yang mereka terima.
Agar nanti saat reuni.
Tak ada lagi dendam di hati.
MENGINSPIRASI
Seorang pakar psikologi mengatakan di acara Sekolah Orang Tua di sekolah anak saya, bahwa dalam mendidik anak di sekolah atau di rumah, salah satu yang sangat penting diperhatikan oleh orang tua adalah melakukan sesuatu yang memberi inspirasi pada anak. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak untuk melakukan sendiri apa yang disampaikan guru atau orang tua perlu sesering mungkin diagendakan.
Contohnya,
menanamkan kebiasaan menyukai dan membaca buku pada anak. Juga kebiasaan
menulis apa yang sudah ia kerjakan atau praktekkan.
Anda tentu
tahu, buku adalah investasi jangka panjang. Buku adalah sumber ilmu dan jendela
pengetahuan. Jadi, Ayah dan Bunda, mari kenalkan anak-anak kita dengan
buku-buku bermutu.
Mari
jadikan rumah kita sebagai sarana belajar yang menyenangkan dan mencerdaskan
untuk anak-anak kita.
BEDA PERSEPSI
Ini sepenggal kisah dalam satu grup WhatsApp (WA) sebuah komunitas.
Lumrahnya
sebuah grup WA, setiap hari berbagai macam hal diposting. Ada tulisan ilmiah,
nasehat, taushiyah, cerita lucu, foto kejadian sehari-hari, video, meme, sticker,
ayat-ayat Al Qur'an, hadis Nabi dan lain-lain. Sesekali ada yang posting
iklan/promosi produk.
Sebagian
besar postingan itu sering hanya copy paste atau forward dari postingan orang
lain atau grup lain. Jarang yang berasal dari karya orisinal anggota grup.
Sering asal copy paste dan share begitu saja tanpa menyebutkan sumber berita
dan tidak dikroscek dulu kebenarannya.
Nah, saya
punya pengalaman cukup menarik.
Suatu ketika,
ada seorang anggota grup yang memposting foto-foto warna-warni sebuah produk.
Tampaknya hasil screenshot.
Dugaan
saya, foto-foto itu berasal dari grup lain. Bukan dari karyanya. Dia nge-share
foto itu mungkin karena menurutnya informasi yang terdapat dalam foto itu
penting diketahui oleh anggota grup lain.
Masalahnya,
foto itu sangat provokatif. Isinya adalah tuduhan bahwa beberapa produk
makanan/minuman dengan merk tertentu mengandung DNA atau lemak babi beserta
ajakan untuk tidak mengkonsumsinya.
Lalu saya
mengomentarinya. Tepatnya, saya menanyakan kebenaran isi foto-foto tersebut
dengan menyebut nama orang yang memposting foto tersebut. Sudahkah dikroscek
dulu ke pihak-pihak yang kira-kira relevan dengan tuduhan itu. Saya menunjuk LP
POM/BPPOM MUI.
Menurut
saya, foto-foto yang diposting itu kemungkinan besar hoax. Maka semestinya
tidak perlu dishare di grup itu. Saya katakan agar sebaiknya sebelum dishare
supaya dikroscek dulu kebenarannya. Niat saya, untuk saling mengingatkan kepada
semua anggota grup karena tujuan grup ini adalah untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat.
Maka semua info yang dishare semestinya valid, tidak bohong dan ada sumbernya
yang jelas.
Ternyata
pikiran saya berbeda dengan dia. Dia merasa tidak perlu kroscek kebenaran foto
itu. Mau share ya share saja, tidak usah pusing-pusing memikirkan isinya,
sumbernya dari mana. Itu tidak penting. “Slow down”, katanya. “Santai
saja. Tidak usah serius-serius amat. Kalau kira-kira tidak benar ya abaikan
saja. Gitu saja kok repot”, lanjutnya.
Tidak saya
sangka, ternyata dia marah dan tersinggung karena saya sudah menyebut namanya
di komentar saya.
Ini
menurut saya sebenarnya lucu. Dia yang memposting foto lalu saya komentari dan
saya sebut namanya tapi dia tersinggung. Aneh.
Mau tidak
mau saya jadi kepikiran juga.
Apakah
saya salah telah menyebut namanya di komentar saya itu?
Apakah
wajar dia tersinggung karena saya sudah menyebut namanya di komentar saya?
Atau apakah
sebaiknya saya diam saja, tidak perlu mengomentari postingannya, cuek sajalah
meski saya tahu postingan seperti itu kemungkinan besar hoax?
Mari
berpikir dengan kepala dingin.
***
Ahad, 4
Februari 2018 di sebuah masjid di Jogjakarta
H U J A N
Oleh Syahidah Asma Amanina
Oh hujan kau berguna untuk bumi.
Kau membantu petani menyiram kebunnya.
Engkau diciptakan Allah yang Maha Berkuasa.
Oh hujan engkau juga berguna untuk tanaman.
Engkau membuat tanaman menjadi subur.
Aku senang jika kau ada
karena kau membuat pemandangan sangat
indah.
Oh hujan jika kau tidak ada aku sedih
karena musim kemarau akan datang.
Oh hujan aku ingin kau tidak pergi.
* Syahidah Asma Amanina. 8 tahun.
Kelas dua SD Islam Al Islam Tambakbayan.
PUISI MATAHARI
Oh, matahari
Kau selalu menyinari bumi
Kau berguna untuk tanaman
Kau membuat bunga-bunga bermekaran
Kau selalu bersinar di pagi hari
Oh, matahari
Kau selalu menyinari bulan
Oh, matahari
Andai kita bisa bertemu
Di langit yang tinggi
Saat aku sekolah kau muncul
Aku sangat senang
Karena kau membuat pemandangan
Sangat indah
(Syahidah Asma Amanina)
Alhamdulillah...Ini puisi anak saya, Syahidah Asma Amanina, dimuat di koran Kedaulatan Rakyat Minggu, 16 November 2014. Di Rubrik Kawanku. Bagi saya surprise karena saat itu ia baru berusia 8 tahun. Kelas 2 SD. Ucapan terimakasih kepada Bu Ria S. Halimah (wali kelas 2 SD Al Islam Tambakbayan) yang sudah membimbing Syahidah sampai bisa menulis puisi ini.
UNDANGAN PILKADES
Beberapa waktu yang lalu, Desa tempat tinggal saya mau mengadakan pemilihan kepala desa (Pilkades). Saya dan istri pun terdaftar sebagai pemilih. Beberapa hari sebelum pemilihan, panitia pemungutan suara (PPS) mengantar surat undangan untuk mencoblos. Saya tidak tahu siapa yang menerima undangan itu karena kebetulan saya tidak berada di rumah. Kata istri saya, anak-anak melihat lembar undangan itu saat diantarkan oleh panitia.
Hari pemilihan pun tiba. Saya dan
istri berangkat. Karena libur, anak-anak ingin ikut pula. Surat undangan
pun saya bawa.
“Aku
juga mau bawa undangan,” kata Syafiq (4 tahun), anak saya yang kedua.
“Nggak usah. Kamu nggak perlu bawa
undangan, Nak”.
Saya jelaskan kalau undangan itu
untuk orang dewasa saja yang mau memilih. Tapi ia tetap ngeyel harus membawa undangan. Ia menghalangi saya berangkat ke TPS
dan tidak mau melepaskan cengkeraman tangannya kalau tidak dibawakan kertas
undangan. Saya berpikir cepat. Saya ambil surat undangan PMOG (Pertemuan
Orangtua Murid dan Guru) yang sudah lewat dari PAUD tempat ia sekolah. Untungnya
format undangan dari PPS dengan PAUD hampir mirip, sama-sama hanya memakai
kertas A4 kuarto putih. Tadinya ia mau membawa surat undangan dari PPS
tadi.
Sampai di TPS,surat undangan saya
dan istri dibubuhi angka sesuai nomor urut dalam daftar pemilih tetap pilkades
oleh panitia. Nomor 113 dan 114.
Melihat
surat undangan saya dibubuhi nomor, Syafiq pun ingin suratnya dibubuhi nomor juga.
Awalnya panitia bingung. Ini surat mau ditulis apa. Salah seorang panitia
spontan nyeletuk,”Sudah, tulis angka
nol saja!”. Panitia dan orang-orang yang berdiri di dekat meja pendaftaran pun spontan
pada tertawa melihat kejadian itu. Saya dan istri hanya tersenyum. Tapi dalam
hati, saya merasa akan terjadi sesuatu.
Saya
sudah menduga Syafiq pasti marah. Betul saja, ia lalu berteriak,”Aku nggak mau
angka nol”. Ia menangis sesenggukan memeluk kaki saya. Bagi orang-orang dewasa mungkin
ini kejadian lucu tapi bagi dia ini adalah pelecehan atau penghinaan. Hatinya
terluka.
Dari peristiwa kecil itu, menyadarkan saya ternyata masih banyak orang
dewasa, mungkin juga kita para orangtua, yang
sering tanpa sadar telah melakukan penghinaan kepada anak-anak kecil. Bisa
dalam bentuk ucapan, bahasa tubuh sampai dengan tindakan seperti mentertawakan,
menghina, menyepelekan. Menganggap anak kecil tidak punya harga diri.
Seolah-olah anak kecil itu tak punya hati. Padahal, tanpa sadar sesungguhnya
apa yang orangtua lakukan itu telah melukai hati mereka dan membekas. Mungkin
akan diingat terus sampai usia dewasa. Na’udzu
billah
Langit Terbuka Menuju Tanah Suci
Pagi buta di bandara, dingin menusuk kulit dan cahaya neon mengiringi langkahku menuju konter maskapai Saudi Arabia Airlines. Ini perjalanan...
-
Oleh Martiana Hari itu, 16 Ramadhan tepatnya 6 September 2009 dengan rahmat Allah, lahir bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu ak...
-
Pagi buta di bandara, dingin menusuk kulit dan cahaya neon mengiringi langkahku menuju konter maskapai Saudi Arabia Airlines. Ini perjalanan...
